Jenis-Jenis Terapi Untuk Anak dengan ADHD

ADHD (Attention Deficit Hiperactivity Disorder) merupakan gangguan yang mempengaruhi proses perkembangan. Akibatnya, penderita ADHD akan menjadi hiperaktif, impulsif, dan sulit berkonsentrasi. Biasanya, ADHD muncul ketika masa kanak-kanak. Namun, gangguan ini akan berlangsung hingga dewasa. Agar tetap berkembang dengan baik, anak dengan ADHD memerlukan perhatian khusus. Untuk itu, mereka disarankan melakukan beberapa terapi sehingga kondisinya menjadi lebih baik.

Terapi Membaca

Terapi membaca membuat konsentrasi anak dengan ADHD teralihkan menjadi positif. Selain itu, terapi ini juga melatih mereka menangkap informasi secara visual. Terdapat beberapa jenis terapi membaca yang bisa diterapkan pada anak ADHD, yakni:

  1. Membaca buku dongeng
  2. Membaca majalah
  3. Membaca cerpen
  4. Membaca informasi di internet

Terapi Kognitif untuk Anak

Terapi kognitif bertujuan melatih anak ADHD untuk berpikir sebelum bertindak. Selain itu, diharapkan anak juga bisa berperilaku sesuai dengan aturan. Seperti yang diketaui, anak hiperaktif umumnya sulit diatur. Mereka bahkan bisa bertindak kasar. Namun, terkadang mereka juga bisa bersikap lembut. Sayangnya, tidak mudah untuk menebak tindakan yang akan mereka lakukan. Makanya, beberapa terapi kognitif ini diperlukan.

  1. Terapi diskusi https://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi_Komunikasi_Autisme
  2. Terapi teka-teki silang
  3. Terapi clue
  4. Terapi pelajaran sekolah
  5. Terapi musik

Terapi Bicara Anak

Banyak anak ADHD yang tidak banyak bicara. Mereka hanya melakukan banyak tindakan. Padahal, baik bertindak maupun berbicara haruslah berjalan dengan seimbang. Pemberian terapi bicara dapat memberikan stimulasi kepada anak ADHD. Berikut beberapa jenis terapi bicara yang bisa diberikan.

  1. Terapi bernyanyi
  2. Terapi bercerita
  3. Terapi mengaji

Terapi Perilaku

Terapi perilaku bertujuan untuk mengubah perilaku anak ADHD. Jika sebelum terapi perilakunya mengarah ke hal negatif, diharapkan nantinya perilaku tersebut berubah menjadi positif. Terapi perilaku ini dilakukan melalui sugesti. Dalam pelaksanaannya, terapis akan memberikan sugesti positif pada anak. Selain terapis, orang tua juga diharapkan terlibat pada terapi ini sehingga anak lebih memahami sugesti yang diberikan. Sebagai contoh, anak diberitahu bahwa ia merupakan anak mandiri sehingga mampu bertanggung jawab atas perilakunya.